Makanan Khas Meureudu yang Menggugah Selera

Pagi itu, aroma harum kuah kari menyeruak dari warung sederhana di pinggir jalan Meureudu. Saya duduk di bangku kayu yang sudah lapuk dimakan usia, menunggu sepiring mie aceh yang legendaris di kota ini. Meureudu, meski kecil, menyimpan kekayaan kuliner yang membuat siapa pun ingin kembali. Di sini, setiap hidangan bukan sekadar makanan, melainkan cerita tentang warisan leluhur dan kehangatan masyarakat Aceh.
Mie Aceh: Simfoni Rempah yang Memikat
Mie kuning tebal berpadu dengan kuah kental berwarna kemerahan adalah pemandangan yang biasa di Meureudu. Mie aceh di sini punya karakter unik: menggunakan lebih banyak rempah seperti kapulaga, bunga lawang, dan kayu manis dibandingkan versi kota lain. Warung Pak Harun di Jalan Teungku Chik Ditiro menjadi favorit warga karena resep turun-temurun yang dipertahankan sejak 1980-an. "Kuncinya ada di gilingan bumbu yang harus halus dan pemasakan dengan api kecil," katanya suatu sore sambil mengaduk kuali besar.
Saya selalu memesan versi goreng dengan tambahan irisan daging kambing muda. Pedasnya tidak langsung menyergap, tapi perlahan menggigit di ujung lidah, persis seperti karakter orang Aceh yang ramah tapi tegas. Menurut catatan sejarah kuliner Aceh di Wikipedia Indonesia, penggunaan lada dan cabai dalam mie aceh terinspirasi dari perdagangan rempah masa lampau.

Kuah Beulangong: Kejutan Rasa dari Dapur Tradisional
Masih jarang wisatawan yang tahu tentang beulangong, hidangan berkuah kental dari campuran ikan laut dan santan. Saya pertama kali mencobanya di acara kenduri di Desa Blang Cut. Rasanya seperti perpaduan gulai dan kari, dengan aftertaste sedikit asam dari belimbing wuluh. Ibu Ramlah, tetua desa, bercerita bahwa hidangan ini dulunya disajikan untuk menyambut musim tanam padi. "Kami percaya kuah kentalnya melambangkan harapan hasil panen yang melimpah," ujarnya sambil menunjuk ke sawah di kejauhan.
Yang membuat beulangong khas Meureudu adalah penggunaan on sot (daun muda pohon asam) sebagai pengganti asam jawa. Daun ini hanya tumbuh di beberapa kecamatan sekitar kota, memberi sentuhan aroma herbal yang segar. Saya sering melihat ibu-ibu di pasar pagi menjual ikatan kecil on sot bersama bumbu lainnya, bukti bahwa kuliner tradisional masih hidup di tengah gempuran makanan modern.
Martabak Durian: Akulturasi Rasa yang Manis
Malam di Meureudu tidak lengkap tanpa menyambangi gerobak Martabak Durian Bang Ical. Berbeda dengan martabak manis biasa, versi ini menggunakan durian lokal asal Aceh Barat Daya yang dihaluskan sebagai isian. Kocokan telurnya lebih banyak, membuat teksturnya seperti perpaduan martabak dan crepes. "Ide ini muncul waktu panen durian melimpah tahun 2015," kenang Ical sambil membalik adonan di atas wajan datar.
Yang unik, ia menggunakan campuran tepung beras dan terigu agar lebih renyah, teknik yang dipelajarinya dari nenek yang ahli membuat kue cucur. Setiap gigitan mengeluarkan aroma durian yang kuat tapi tidak menyengat, dipadu manisnya gula aren asli dari Takengon. Gerobak sederhananya selalu ramai sampai larut, menjadi saksi bisu bahwa inovasi kuliner bisa lahir dari bahan-bahan lokal.
Beberapa tahun menetap di Meureudu mengajarkan saya bahwa makanan khas bukan sekadar kombinasi bumbu. Di balik setiap hidangan, ada cerita tentang musim panen, upacara adat, atau percampuran budaya yang terjadi berabad-abad. Kini, setiap kali mencium wangi rempah di pasar pagi, saya tahu akan ada lagi petualangan rasa yang menanti.